Makassar, satelit01.com – Konferensi Daerah (Konferda) PDI Perjuangan Provinsi Sulawesi Selatan dan Konferensi Cabang (Konfercab) PDI Perjuangan Kabupaten/Kota se-Sulsel digelar di Claro Hotel Makassar, Jl. A.P. Pettarani, pada Senin, 24 November 2025, pukul 10.00 WITA.
Ketua DPD PDIP Sulsel, Ridwan Andi Wittiri, dalam sambutannya menekankan pentingnya kerja dengan hati, disiplin organisasi, keteguhan ideologi, dan konsistensi membela kepentingan rakyat. Ia juga mengingatkan agar seluruh kader mengutamakan solidaritas dan soliditas antar struktur partai, serta menghindari ego sektoral dan kepentingan pribadi.
“Dalam konferensi ini, satu hal yang tidak boleh ditawar adalah solidaritas dan soliditas antara struktur partai,” tegas Ridwan. Ia mengajak seluruh kader untuk menjalankan proses konsolidasi dengan tertib, demokratis, dan penuh intensitas, sehingga dapat menghasilkan pemimpin yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat Sulsel.
Sekretaris Jenderal DPP PDIP, Hasto Kristiyanto, hadir membuka acara dan menyampaikan orasi yang membangkitkan semangat nasionalisme. Hasto menyinggung sejarah dan visi maritim Indonesia, serta kontribusi Sulawesi Selatan dalam peradaban dunia. Ia mengutip kisah Sultan Hasanuddin sebagai pahlawan bangsa yang gigih melawan penjajah, serta menyoroti budaya bahari Suku Bugis yang mencerminkan jati diri bangsa Indonesia sebagai bangsa bahari.
“Jika sejarah dunia pun harus dikoreksi, karena pemahaman kita terhadap visi samudra. Visi maritim, visi samudra raya telah menjadi kultur yang telah hidup menjadi budaya kita,” ujar Hasto.
Hasto juga mengingatkan tentang jejak peradaban tertua di Nusantara yang berusia 44.000 hingga 51.000 tahun lalu, yang membuktikan bahwa Indonesia memiliki sejarah luar biasa dalam membangun peradaban dunia. Ia mengaitkan hal ini dengan semangat gotong royong dan jiwa merah yang harus terus menyala dalam diri setiap kader PDI Perjuangan.
Dalam orasinya, Hasto juga mengutip pesan Bung Karno untuk tidak melupakan sejarah (Jasmerah). Ia menekankan bahwa pemahaman akan sejarah peradaban dunia harus tertanam dalam hati setiap kader, sehingga dapat memahami mengapa Indonesia pernah terjajah.
“Kita terjajah oleh bangsa lain karena perpecahan, oleh sistem pengapian. Imperialisme dan kolonialisme menjajah kita,” tegasnya.
Hasto juga mengingatkan bahwa politik bukan sekadar meraih kekuasaan atau kemenangan dalam pemilu, tetapi juga tentang membangun peradaban dan memperjuangkan kepentingan bangsa dan negara. Ia mengajak seluruh kader untuk menatap masa depan dengan penuh percaya diri, serta melanjutkan perjuangan untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara maritim yang disegani di dunia.
Konferda dan Konfercab ini diharapkan dapat menghasilkan pemimpin yang berkualitas dan mampu membawa PDI Perjuangan semakin dekat dengan rakyat, serta berkontribusi dalam pembangunan Sulawesi Selatan dan Indonesia secara keseluruhan.
Jurnalis: A. Muh Yusuf
Editor: A. Indera Dewa


Tinggalkan Balasan