Wajo, Sulsel, satelit01.com – Suasana khidmat sekaligus menegangkan menyelimuti Universitas As’adiyah Lapongkoda, Kabupaten Wajo, pada hari Jumat, 3 Oktober 2025. Ratusan santri dari berbagai penjuru daerah, bahkan mancanegara, berkumpul untuk mengikuti Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK), sebuah ajang kompetisi bergengsi yang menguji kemampuan membaca dan memahami kitab-kitab klasik Islam atau yang lebih dikenal dengan kitab kuning.

Sejak pagi hari, lalu lalang santri dengan seragam dan atribut khas pesantren masing-masing terlihat memenuhi setiap sudut kampus. Mereka bergegas menuju ruang-ruang tempat lomba berlangsung, membawa kitab-kitab rujukan yang menjadi senjata utama dalam pertempuran intelektual ini. Di antara mereka, tampak guru-guru pendamping yang setia memberikan dukungan moral dan doa.

Hari itu, babak penyisihan Marhalah Ulya (tingkat tinggi) dan babak semifinal Marhalah Ula (tingkat dasar) serta Wustha (tingkat menengah) digelar secara serentak. Setiap majelis (arena lomba) dipenuhi oleh peserta, dewan hakim, dan para penonton yang ingin menyaksikan langsung kemampuan para santri dalam mengupas isi kitab kuning.

banner 1080x1080

Di balik wajah-wajah santri yang tampak serius dan fokus, tersembunyi cerita-cerita perjuangan yang panjang dan penuh liku. Ada rasa tegang, cemas, sekaligus keyakinan yang menyala dalam diri mereka. MQK bukan hanya sekadar lomba, tetapi juga ajang untuk menguji mental, intelektual, dan spiritual.

Filzah Zahrah Aqylah, seorang santriwati dari kafilah tuan rumah As’adiyah Kabupaten Wajo, mengaku sangat gugup menjelang penampilannya. Mengenakan seragam hijau kebanggaan pesantrennya, ia duduk menunggu giliran dengan nomor urut delapan. Majelis yang ia ikuti adalah Hadits Marhalah Wustha.

“Deg-degan sekali, Kak,” ucap Filzah dengan suara pelan, sambil terus menatap kitab rujukan yang dibawanya. Ini adalah pengalaman pertamanya mengikuti MQK, sehingga wajar jika rasa gugup menghantuinya. Meski sudah melakukan persiapan jauh hari dengan bimbingan intensif dari guru-guru pesantren, Filzah menyadari bahwa tantangan di MQK sangatlah berat.

Cerita serupa juga datang dari Alyah Aulia Razak, santriwati asal kafilah Sulawesi Selatan yang tampil di majelis Akhlak Marhalah Ulya. Meski sudah memiliki pengalaman mengikuti MQK Nasional VII tahun 2023 di Lamongan, rasa tegang tetap saja menghantuinya.

“Saya sudah fokus bimbingan sebulan terakhir, kitabnya dipelajari secara intensif, tapi tetap saja gemetar kalau sudah mau tampil,” tutur Alyah sambil tersenyum. Bedanya, kali ini Alyah naik level ke Marhalah Ulya, sehingga tantangan yang dihadapinya semakin berat. Ia menyadari bahwa di tingkat Ulya, penguasaan kitab tidak hanya sebatas pemahaman dasar, tetapi juga harus mendalam dan cara penyajiannya dituntut lebih matang.

Namun, di tengah ketegangan dan persaingan, suasana MQK justru semakin menguatkan ukhuwah Islamiyah. Para santri dari berbagai daerah dan negara berkumpul di satu tempat dengan satu semangat: menghidupkan tradisi literasi pesantren. Mereka tidak berkompetisi untuk saling mengalahkan, tetapi hadir dengan tekad untuk saling belajar, berbagi pengalaman, dan menjaga warisan intelektual Islam.

MQK menjadi momentum penting bagi para santri untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam membaca, memahami, dan mengaplikasikan ajaran-ajaran yang terkandung dalam kitab kuning. Lebih dari itu, MQK juga menjadi ajang untuk mempererat tali persaudaraan, bertukar pikiran, dan memperluas wawasan keislaman.

Bagi Filzah, Alyah, dan ratusan santri lainnya, MQK bukan sekadar lomba. Ia adalah ruang ujian mental, intelektual, sekaligus spiritual. Ada kebanggaan tersendiri bisa berada di hadapan dewan hakim, membacakan dan menjelaskan teks kitab, lalu menyerap hikmah yang terkandung di dalamnya. Semangat literasi pesantren pun terus berkobar di bumi Wajo, menjadi inspirasi bagi generasi muda Islam untuk terus belajar dan berkarya.

(AMY-AID)

banner 1080x1080